RENUNGAN PAGI: Filipi 2:5-11
Konsep kepemimpinan yang Tuhan Yesus ajarkan berbeda dari pandangan umum. Bagi-Nya pemimpin bukanlah bos, tetapi hamba. Ia mengutamakan pengabdian, bukan kekuasaan.
Ia tidak meniadakan kuasa, karena Ia sendiri memiliki kuasa (Mat. 28:18), tetapi Ia menghendaki agar kuasa itu dipakai untuk pengabdiaan. Ia tidak berfokus kepada kuasa seorang pemimpin, melainkan kerendahan hati seorang hamba.
Bagaimana hidup untuk menghamba? Sadarilah identitasmu sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus dan diajar-Nya untuk hidup melayani Allah dan sesama. Teladanilah Tuhan Yesus yang ”datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28). Dengan karya, teladan dan ajaran Tuhan Yesus atasi keangkuhan dan keegoisanmu, untuk dapat melayani sesama.
Firman Tuhan dalam Filipi 2:5-7 mengajarkan umat untuk memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus: ”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
Dalam hal ini ada dua istilah yang penting untuk diperhatian, yaitu KENOSIS (”emptied himself” mengosongkan diri), dan PLEUROSIS (”filling up”, mengisi, mengambil rupa). Untuk bisa melayani dengan baik kedua hal ini penting. Dengan KENOSIS, orang bersedia mengosongkan diri dari keakuan dan kepentingan diri sendiri, serta bisa memberi ruang kepada orang lain. Dengan PLEUROSIS, orang mau mengambil rupa seorang hamba dan bersedia melayani sesama.
Di mana hidup menghamba? Bukan hanya di Gereja. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa melayani itu hanya di Gereja. Pemikiran seperti itu tidaklah tepat. Pelayanan itu harus dilakukan di gereja, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di pasar, dan di tempat-tempat lain. Ingatlah, bahwa setiap orang percaya adalah hamba Allah yang dipanggil melayani sesama. Panggilan itu dapat dilakukan di mana dan kapan saja.
Pada saat seseorang diberi kesempatan untuk memimpin, jadilah pemimpin yang melayani. Pemimpin yang melayani mengabdi dengan penuh dedikasi. Orientasi kepemimpinannya adalah melayani kepentingan sesamanya. Ia memiliki kasih dan perhatian kepada orang-orang yang dipimpinnya. Ia peduli pada kebutuhan, kemajuan, kesejahteraan, dan harapan mereka. Ia rela berkorban untuk kebaikan sesamanya
Good morning. God bless you.
Andreas Loanka



