Selamat datang di blog saya,
Pdt. Dr. Andreas Loanka, S.Th., M.Div.
Semoga blog ini bisa menjadi berkat buat Anda.
1,586 views

[RENUNGAN PAGI] Kisah Para Rasul 6:1-7; Mazmur 23:4

Tulisan Mandarin untuk krisis adalah “wei ji” (危機), yang terdiri dari “wei” (bahaya) dan “ji ” (kesempatan). Jadi dalam krisis ada bahaya, tetapi juga ada kesempatan. Ada orang yang jatuh terjerembab pada saat krisis, tetapi ada pula yang menjadikan krisis sebagai peluang untuk membuat terobosan-terobosan baru yang inovatif dan berguna.

Gereja mula-mula menghadapi krisis. Ketika jumlah orang-orang percaya makin bertambah, maka timbullah suara-suara yang menyatakan ketidakpuasan. Orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani mengeluh bahwa janda-janda mereka dibedakan. Dalam pembagian sehari-hari mereka tidak mendapat makanan sebanyak yang diterima oleh janda-janda yang berbahasa Ibrani.

Bila keadaan ini dibiarkan terus, maka hal itu bisa memicu konflik dan menimbulkan perpecahan. Para rasul cukup responsif, mau mencari tahu penyebab masalah, dan melakukan terobosan untuk solusinya.  Mereka cukup tanggap terhadap persoalan, keluhan, kebutuhan, dan harapan orang-orang yang dipimpinnya.

Mereka mempelajari penyebab timbulnya masalah, lalu menemukan bahwa diri merekalah yang harus dipersalahkan: “mereka melalaikan firman Allah untuk melayani meja” (Kis. 6 :2). Karena terlalu sibuk melakukan banyak pekerjaan, maka pelayanan mereka menjadi tidak fokus, tidak maksimal, dan ada yang merasa terabaikan.

Mereka mau berubah dan melakukan terobosan. Mereka mengusulkan solusi agar dipilih tujuh orang dari antara umat yang terkenal baik, penuh Roh dan hikmat untuk melayani meja. Dengan demikian, tugas diakonia untuk membantu orang-orang yang berkekurangan dapat berjalan lebih baik dan adil, dan para rasul dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman. Usulan solusi itu diterima dengan baik dan dilaksanakan.

Hasilnya sangat menggembirakan! Seluruh umat kembali bersatu hati (Kis. 6 :5), firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid makin bertambah banyak (Kis. 6 :7). Krisis telah mereka jadikan sebagai peluang untuk maju.

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, dan usaha ada berbagai krisis yang  kita alami.   Krisis bagaikan gelombang ombak di lautan yang menakutkan banyak orang, tetapi justru dimanfaatkan oleh para peselancar.   Bagi para peselancar, gelombang besar justru merupakan peluang untuk berekspresi dan maju.   Hendaklah kita memandang krisis seperti para peselancar memandang gelombang ombak di lautan.

Krisis itu bisa mendatangkan bahaya, tetapi juga membuka peluang. Maka jangan takut terhadap krisis, tetapi dengan hikmat dan pertolongan Tuhan jadikanlah krisis sebagai peluang untuk maju.  Ingatlah firman-Nya: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4)

Good Morning. Gσd вιзss you.

Andreas Loanka

Bermakna dan Berdamp

RENUNGAN PAGI: Matius 5:13-16 Injil Matius pasal 5 diawali dengan Delapan ...

Stop Labeling

RENUNGAN PAGI: 1 Samuel 16:1-13 dan Lukas 18:15-17 Labeling atau perilaku ...

Ketaatan Kepada Alla

RENUNGAN PAGI : Imamat 9:1-24 Para hamba Tuhan dan segenap umat ...

Api-Nya Harus Tetap

RENUNGAN PAGI : Imamat 6:8-13 Imamat 5 dan 7 berbicara tentang ...

Setia Memberitakan I

RENUNGAN PAGI : Kisah Para Rasul 28:17-28 Paulus menjadi tahanan rumah ...

Bermakna dan Berdamp

RENUNGAN PAGI: Matius 5:13-16 Injil Matius pasal 5 diawali dengan Delapan ...

Stop Labeling

RENUNGAN PAGI: 1 Samuel 16:1-13 dan Lukas 18:15-17 Labeling atau perilaku ...

Ketaatan Kepada Alla

RENUNGAN PAGI : Imamat 9:1-24 Para hamba Tuhan dan segenap umat ...

Api-Nya Harus Tetap

RENUNGAN PAGI : Imamat 6:8-13 Imamat 5 dan 7 berbicara tentang ...

Setia Memberitakan I

RENUNGAN PAGI : Kisah Para Rasul 28:17-28 Paulus menjadi tahanan rumah ...