[RENUNGAN PAGI] Markus 15:33-34
Gelap gulita dan kelam kabut meliputi seluruh daerah itu. Dari jam dua belas siang sampai jam tiga, selama tiga jam, matahari menyembunyikan wajahnya di balik awan pekat. Di penghujung kegelapan itu, Tuhan Yesus di dalam kesengsaraan-Nya berteriak, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Pada saat itu Tuhan Yesus sedang memikul dosa-dosa manusia, sehingga Ia merasakan murka Allah terhadap manusia atas dosa-dosa mereka. Kristus dijadikan dosa bagi kita, dan Ia dijadikan kutuk bagi kita. Oleh karena itu, meskipun Bapa mengasihi-Nya sebagai Anak, Dia memalingkan muka dari-Nya.
Ketika Dia ditinggalkan murid-murid-Nya, Ia tidak berkata, “Mengapa kalian meninggalkan Aku?” Ketika disesah, diludahi, dan dipaku di kayu salib, Ia pun tidak mengeluh. Tetapi pada saat Bapa menjauhkan diri dari-Nya, Ia berteriak, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Bukan hanya penderitaan fisik dan mental yang dialami-Nya, tetapi juga penderitaan spritual yang begitu mendalam. Seperti yang dikatakan Mattew Henry, “Kenyataan bahwa Yesus ditinggalkan oleh Bapa-Nya merupakan hal yang paling menyedihkan dan yang paling dikeluhkan oleh-Nya di antara semua penderitaan yang dialami-Nya.”
Tuhan Yesus, meskipun saat itu sedang ditinggalkan oleh Bapa-Nya, tetap memanggil-Nya sebagai Allah-Nya. Inilah yang menguatkan dan menyokong Dia, yaitu dalam penderitaan-Nya yang terdalam sekalipun, Allah tetaplah Allah-Nya, dan Dia bertekad untuk berpegang kepada kebenaran dalam menuntaskan karya keselamatan bagi manusia.
Tuhan Yesus rela memikul dosa kita agar kita mendapat pengampunan. Ia rela terkutuk karena dosa agar kita beroleh anugrah keselamatan. Ia rela ditinggalkan Bapa-Nya agar kita dapat diperdamaikan dengan Bapa.
Halleluya! Soli Deo Gloria!
Andreas Loanka



