Selamat datang di blog saya,
Pdt. Dr. Andreas Loanka, S.Th., M.Div.
Semoga blog ini bisa menjadi berkat buat Anda.
3,066 views

[RENUNGAN PAGI] 1 Samuel 16:4-7
Ada seorang teolog Kristen yang bernama Soren Kierkegaard. Ia membagi perilaku manusia, khususnya orang-orang Kristen, dalam tiga level. 

Pertama, Level Aesthetic. Pada level ini, orang Kristen itu melakukan suatu hal berdasarkan apa yg dia suka. Apa pun juga yang diperbuatnya, dasarnya kembali pada satu hal, “Saya suka atau tidak?” Kalau suka baru dia dilakukan. Level ini bicara soal perasaan nyaman.

Kedua, Level Rasional. Pada level ini, hidup orang Kristen itu semua dipertimbangkan dengan penilaian: “Masuk akal atau tidak?  Benar atau tidak?” Kalau bisa dipahami, masuk akal dan dinilai benar, barulah dilakukannya.

Ketiga, Level Iman. Kehendak Tuhan yang menjadi prioritas.  Pertanyaannya adalah: ”Apakah kehendak Tuhan?” Merasa nyaman itu perlu, dan bertindak rasional itu juga dibutuhkan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu kehendak Tuhan.

Ada saatnya kita harus meninggalkan “zona aman” dari Level Aesthetic serta ”belenggu rasio” dari Level Rasional. Kita harus masuk ke Level Iman. Ukurannya bukan hanya, ”Apa yang aku suka?” atau  ”Apa yang masuk akal bagiku?”,  tetapi ”Apa kehendak Tuhan?”

Pada saat hendak memilih pemimpin baru bagi bangsa Israel, Samuel hampir terkecoh. Mengapa?  Karena ia hanya mengandalkan mata dan rasionya saja.

Ketika melihat Eliab, Samuel merasa confortabel, sebab  Eliab secara fisik berpenampilan sangat OK.  Dipertimbangkan secara rasional, Eliab pun memiliki pra-syarat menjadi seorang pemimpin.  Dia  memiliki paras dan perawakan yang tinggi, memiliki keahlian dalam bertempur, dan sebagai anak sulung dan gembala ia sudah biasa memimpin. Samuel berpikir, ”Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”

Tetapi Tuhan berfirman kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Sam. 16:7).

Penampilan fisik  itu penting, tetapi hati jauh lebih penting. Yang lahiriah itu perlu diperhatikan, tetapi yang bathiniah itu tidak boleh diabaikan.  Hendaklah kita tidak hanya melihat dengan mata jasmani, tetapi juga dengan mata iman.

Melihat dengan mata iman bukan berarti mengabaikan rosio, perasaan atau tindakan, tetapi justru menyeimbangkannya. Bila tidak ada keseimbangan di antara ketiganya, manusia akan jatuh kepada rasionalisme, emosionalisme, ataupun aktivisme. Iman justru mencakup ketiganya, dan menjaga keseimbangan dimensi reflektif, afektif dan proaktif. Tetapi lebih dari itu, mata iman mengarahkan kita untuk mencari kehendak Allah.

Iman membuat seorang Kristen dapat melihat melampaui mata jasmani. Pandangan orang beriman  tidak hanya tertuju kepada yang terbatas (finitude) dan sementara (temporal), tetapi mengarah kepada yang tak terbatas (infinitude) dan abadi (eternal). Seperti yang dikatakan rasul Paulus, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Kor. 4:18).

Biarlah kita dapat melihat sesuatu bukan hanya dengan mata jasmani, tetapi juga dengan mata iman.  Dengan mata iman kita senantiasa mencari dan mengutamakan kehendak Allah.

Ingatlah firman Tuhan:

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b).
 

Good morning. God bless you

Andreas Loanka

Bermakna dan Berdamp

RENUNGAN PAGI: Matius 5:13-16 Injil Matius pasal 5 diawali dengan Delapan ...

Stop Labeling

RENUNGAN PAGI: 1 Samuel 16:1-13 dan Lukas 18:15-17 Labeling atau perilaku ...

Ketaatan Kepada Alla

RENUNGAN PAGI : Imamat 9:1-24 Para hamba Tuhan dan segenap umat ...

Api-Nya Harus Tetap

RENUNGAN PAGI : Imamat 6:8-13 Imamat 5 dan 7 berbicara tentang ...

Setia Memberitakan I

RENUNGAN PAGI : Kisah Para Rasul 28:17-28 Paulus menjadi tahanan rumah ...

Bermakna dan Berdamp

RENUNGAN PAGI: Matius 5:13-16 Injil Matius pasal 5 diawali dengan Delapan ...

Stop Labeling

RENUNGAN PAGI: 1 Samuel 16:1-13 dan Lukas 18:15-17 Labeling atau perilaku ...

Ketaatan Kepada Alla

RENUNGAN PAGI : Imamat 9:1-24 Para hamba Tuhan dan segenap umat ...

Api-Nya Harus Tetap

RENUNGAN PAGI : Imamat 6:8-13 Imamat 5 dan 7 berbicara tentang ...

Setia Memberitakan I

RENUNGAN PAGI : Kisah Para Rasul 28:17-28 Paulus menjadi tahanan rumah ...