[RENUNGAN PAGI] Lukas 23:35-43
Ditegor oleh orang yang lebih baik dan lebik pandai, biasanya kita lebih bisa menerimanya. Tetapi bila diejek oleh orang yang lebih buruk, lebih bodoh, dan lebih bobrok hidupnya, kita akan merasa tidak tahan.
Di atas kayu salib Tuhan Yesus diejek dan diolok-olok orang. Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama dengan-Nya juga ikut mengejek Yesus. Kendatipun demikian, Tuhan Yesus tetap dapat menahan diri. Ia tidak marah. Ia tidak membalas perkataan dan perbuatan mereka. Ia tetap sabar, mengasihi dan mengampuni.
Ketabahan, pengampunan dan keajaiban kasih Allah terpancar dari diri-Nya. Rupanya hal ini diperhatikan oleh salah satu penyamun yang disalibkan bersama Tuhan Yesus itu. Ia pun bertobat dan percaya kepada-Nya.
Mula-mula ada dua penyamun yang mengejek Tuhan Yesus (Mat. 27:44; Mrk. 15:32). Tapi kemudian hanya tersisa satu orang (Luk. 23:40). Satu penyamun tidak lagi mengejek, karena ia sudah bertobat dan mengalami perubahan yg drastis.
Pada saat temannya mengejek Tuhan Yesus, ia justru menegornya. Katanya, “”Tidakkah engkau takut akan Allah menjelang kematian ini? Memang sepantasnyalah kita mati, sebab perbuatan kita jahat, tetapi Orang ini tidak pernah berbuat suatu kejahatan apa pun” (Luk. 23:40, FAYH).
Penyamun yang bertobat itu sadar bahwa dirinya patut dihukum dan sudah selayaknya menerima hukuman yang setimpal. Ia tahu bahwa Tuhan Yesus adalah orang benar dan tidak layak dihukum.
Ia telah melihat keindahan, kasih, dan keajaiban Allah yang memancar dari diri Tuhan Yesus. Ia menjadi percaya kepada-Nya dan memohon, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engka u datang sebagai Raja” (Luk. 23:42).
Tuhan Yesus mengasihi dan peduli padanya. Penyamun yang bertobat dan percaya kepada-Nya itu dikaruniakan anugrah keselamatan.
Tuhan Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).
Good Morning. God bless you.
Andreas Loanka



