Selamat datang di blog saya, Andreas Loanka, S.Th., M.Div.
Semoga blog ini bisa menjadi berkat buat Anda.

RENUNGAN  PAGI: Lukas 16:19-31

 

Seorang filsuf berkata, “Mengapa harus takut mati? Kalau Anda masih bisa takut mati, berarti Anda belum mati. Bila Anda sudah mati, maka Anda tidak bisa takut mati lagi.”

Apa yang dikatakan oleh sang filsuf itu pada satu sisi ada benarnya. Kematian itu sendiri memang tidak perlu ditakutkan. Tapi ada suatu hal penting yang luput dari pengamatan sang filsuf, yaitu apa yang terjadi setelah kematian.

Kematian bukan akhir dari segala-galanya. Alkitab mengatakan, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia” (Ibr. 9:27-28).

Ada penghakiman sesudah kematian. Namun Kristus telah mengorbankan diri-Nya untuk menganugrahkan keselamatan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya (Yoh. 3:16; Rm. 10:9-10).

Kematian tidak perlu ditakutkan, namun ada hal-hal yang perlu kita lakukan sebelum kematian itu datang. Dari kisah Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin kita bisa memetik pelajaran yang sangat berharga.

1.   Mempesiapkan diri untuk menghadapi kehidupan sesudah kematian adalah pada waktu hidup, bukan sesudah mati

Pada waktu hidup, orang kaya itu (tidak disebut namanya) hidup mewah dan senang, sedang Lazarus hidup miskin dan  menderita. Tetapi sesudah mati hal yang sebaliknya terjadi. Lazarus hidup senang di pangkuan Abraham, sedang orang kaya itu menderita sengsara di alam maut.

Orang kaya itu menderita sengsara di alam maut bukan karena ia kaya. Tidak semua orang kaya harus menderita setelah kematiannya. Abraham adalah seorang yang kaya semasa hidupnya di dunia, tetapi dia hidup senang di alam baka. Begitu juga Ayub dan Daud. Sebaliknya, Lazarus hidup senang di Firdaus bukan pula karena ia miskin. Banyak juga orang miskin yang menderita di alam maut.

Inti masalahnya adalah orang kaya itu tidak mempersiapkan diri menghadapi  hari esoknya, sedangkan Lazarus mempersiapkannya. Meskipun miskin dan menderita, Lazarus tetap percaya kepada Allah dan hidup berkenan kepada-Nya.

2.  Melakukan kebaikan kepada sesama untuk memuliakan Tuhan adalah waktu hidup, bukan sesudah mati

Orang kaya itu bisa melakukan hal yang baik semasa hidupnya, tetapi ia tidak melakukannya. Ia memiliki harta yang melimpah yang dapat dipakai untuk memuliakan Allah, tetapi ia melupakannya.

Ia punya kesempatan untuk menolong orang yang lemah dan berkekurangan, tetapi dia tidak menggunakan kesempatan itu. Ia hanya hidup bersenang-senang dan melupakan tugas dan tanggung jawabnya.

Hatinya tidak tergerak ketika melihat Lazarus miskin mengambil remah-remah makanan di bawah kolong mejanya. Ia sampai hati melihat anjingnya menjilati borok-boroknya Lazarus tanpa berbuat sesuatu untuk menolong.

Waktu ajalnya telah tiba, tidak ada lagi kesempatan baginya.

3.  Memberitakan Injil dan percaya Injil adalah pada waktu hidup, bukan sesudah mati

Di balik segala kesalahan dan kekurangannya, ada juga hal yang patut dipuji pada orang kaya itu.  Sesudah berada di alam maut, dia masih ingat kepada kelima orang saudaranya.  Ia tidak ingin mereka mengalami penderitaan yang sama seperti yang dialaminya.

Ia meminta kepada Abraham agar mengutus Lazarus untuk pergi kepada saudara-saudaranya. Ia memohon agar saudara-saudarnya diperingatkan, sehingga mereka bisa bertobat dan tidak mengalami sengsara maut. Tetapi sudah terlambat. Abraham memberitahunya bahwa hal itu tidak mungkin lagi dilakukan.

Abraham berkata kepadanya, ‘Kitab Suci sudah memperingatkan mereka berulang kali. Saudara-saudaramu dapat membacanya setiap waktu.’

Orang kaya itu menyahut, ‘Tidak, Bapa Abraham, mereka tidak akan mau membacanya. Tetapi, kalau ada orang dari alam maut disuruh pergi kepada mereka, tentu mereka akan bertobat.’

Abraham berkata, ‘Kalau mereka tidak mau mendengarkan Musa dan  nabi-nabi yang lain, pasti mereka juga tidak akan mau mendengarkan,  sekalipun ada orang yang bangkit dari antara orang mati memberitahu mereka’” (Luk. 16:29-31, FAYH).

Memberitakan kebenaran agar orang lain bertobat adalah pada saat masih hidup. Orang mati tidak bisa lagi memberitakannya. Demikian pula, orang yang sudah mati tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertobat dan diselamatkan.

Selagi nafas masih dikandung badan, beritakanlah kabar baik kepada orang-orang yang Saudara kasihi. Sewaktu masih memiliki hidup, bertobatlah dan terimalah anugrah keselamatan yang Tuhan sediakan. Jangan menunda-nunda.

Mempersiapkan diri untuk hari esok adalah sekarang, bukan nanti. Kisah orang kaya dan Lazarus mengajarkan tiga hal penting berkenaan dengan hal itu.  Pertama, persiapan untuk kematian adalah waktu hidup dan bukan sesudah kematian itu datang.  Kedua, melakukan yang baik kepada sesama untuk memuliakan Tuhan adalah waktu hidup dan bukan sesudah mati. Ketiga, memberitakan injil dan percaya injil adalah pada waktu hidup dan bukan sesudah mati. Orang kaya itu menyadari hal itu setelah ia mati. Tidak ada lagi kesempatan baginya untuk melakukannya. Ia sudah terlambat.

Janganlah Saudara terlambat!

 

Good morning. God bless you.

Andreas Loanka

Evaluasi Diri Di Akh

RENUNGAN PAGI:  Efesus 5:15   Tanpa terasa kita sudah memasuki hari terakhir tahun ...

Menghabiskan Waktu

RENUNGAN PAGI: Mazmur 90:12   Waktu. “Anda tidak bisa membelinya, menyewakannya, menyimpannya, ...

Meruntuhkan Tembok S

RENUNGAN PAGI: Yohanes 4:4-26, 39   “Dalam kisah hidupnya, Mahatma Gandhi bercerita ...

Sesamamu Melampaui S

RENUNGAN PAGI: Lukas 10:25-37     Suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) ...

Hidup Yang Memiliki

RENUNGAN PAGI:  Lukas 2:13-14 Kita sering mengukur level hidup kita pada: Penampilan: ...

Evaluasi Diri Di Akh

RENUNGAN PAGI:  Efesus 5:15   Tanpa terasa kita sudah memasuki hari terakhir tahun ...

Menghabiskan Waktu

RENUNGAN PAGI: Mazmur 90:12   Waktu. “Anda tidak bisa membelinya, menyewakannya, menyimpannya, ...

Meruntuhkan Tembok S

RENUNGAN PAGI: Yohanes 4:4-26, 39   “Dalam kisah hidupnya, Mahatma Gandhi bercerita ...

Sesamamu Melampaui S

RENUNGAN PAGI: Lukas 10:25-37     Suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) ...

Hidup Yang Memiliki

RENUNGAN PAGI:  Lukas 2:13-14 Kita sering mengukur level hidup kita pada: Penampilan: ...